Kalau ditanya "usahamu untung berapa bulan ini?", banyak pemilik usaha kecil cuma bisa menjawab "kayaknya untung". Penyebab paling umum: uang usaha dan uang pribadi tercampur di satu dompet atau satu rekening. Belanja bahan, bayar listrik rumah, jajan anak, dan setoran pembeli semuanya lewat tempat yang sama.
Akibatnya, untung usaha tidak pernah kelihatan. Uang terasa habis padahal penjualan ramai, atau sebaliknya: usaha sebenarnya rugi tapi tertutup uang pribadi.
Kenapa harus dipisah?
- Supaya tahu untung yang sebenarnya. Laba rugi hanya bisa disusun kalau semua pemasukan dan pengeluaran usaha tercatat terpisah.
- Supaya omzet untuk pajak tidak salah hitung. PPh Final UMKM dihitung dari omzet. Kalau transfer dari keluarga ikut masuk rekening usaha, omzet bisa tercatat terlalu besar.
- Supaya siap kalau butuh pinjaman. Bank biasanya melihat mutasi rekening usaha. Rekening yang campur aduk sulit dibaca.
- Supaya tidak "makan modal". Tanpa batas yang jelas, uang untuk belanja stok bulan depan sering terpakai untuk kebutuhan rumah.
5 langkah memisahkan uang usaha dan pribadi
1. Buka rekening khusus usaha
Tidak harus rekening atas nama badan usaha. Rekening tabungan biasa atas nama pemilik pun cukup, asalkan hanya dipakai untuk usaha. Semua pembayaran dari pembeli masuk ke sini, semua belanja usaha keluar dari sini. Kalau pakai QRIS atau e-wallet, sambungkan ke rekening ini.
2. Siapkan kas kecil untuk transaksi tunai
Uang tunai usaha disimpan di laci atau dompet terpisah, bukan dompet pribadi. Tentukan jumlah tetap, misalnya Rp1 juta. Setiap kali hampir habis, isi ulang dari rekening usaha dan catat.
3. Gaji dirimu sendiri
Ini langkah yang paling sering dilewatkan. Tentukan gaji bulanan untuk pemilik, misalnya Rp3 juta, lalu transfer sekali sebulan dari rekening usaha ke rekening pribadi. Kebutuhan rumah dibayar dari gaji itu, bukan langsung dari uang usaha.
Dengan cara ini, kamu juga tahu apakah usaha sanggup menggaji pemiliknya. Kalau untung usaha selalu di bawah gaji pemilik, itu tanda harga jual atau biaya perlu ditinjau ulang.
4. Catat setiap pengambilan di luar gaji sebagai prive
Kadang tetap ada kebutuhan mendadak dan uang usaha terpakai. Tidak apa-apa, asalkan dicatat sebagai prive (pengambilan pemilik), bukan sebagai biaya usaha. Prive mengurangi modal, bukan mengurangi laba.
5. Rekap tiap akhir bulan
Cocokkan catatan dengan saldo rekening usaha dan kas kecil. Dari situ susun laba rugi sederhana: penjualan dikurangi harga pokok dan biaya. Hasilnya adalah untung usaha yang sebenarnya.
Contoh: sebelum dan sesudah dipisah
Usaha contoh dengan penjualan Rp20 juta sebulan. Semua angka di bawah adalah contoh.
| Keterangan | Campur | Dipisah |
|---|---|---|
| Penjualan | 20.000.000 | 20.000.000 |
| Belanja bahan dan biaya usaha | (16.800.000) | (16.800.000) |
| Kebutuhan rumah yang ikut dibayar dari uang usaha | (2.500.000) | dicatat sebagai prive |
| "Untung" yang terlihat | 700.000 | 3.200.000 |
Dengan uang tercampur, pemilik mengira usahanya cuma untung Rp700 ribu dan mungkin berpikir untuk menutupnya. Setelah dipisah, ternyata usaha untung Rp3,2 juta. Yang membuat uang terasa kurang adalah pengambilan pribadi Rp2,5 juta, bukan usahanya.
Kesalahan yang sering terjadi
- Rekening usaha dipakai untuk transfer keluarga. Transfer masuk dari keluarga bukan penjualan. Kalau terpaksa, beri keterangan jelas supaya tidak dihitung sebagai omzet.
- Belanja pribadi diselipkan di nota usaha. Pisahkan nota sejak di kasir, atau minta dua struk.
- Tidak menggaji diri sendiri, lalu mengambil uang usaha sesuka hati. Gaji tetap jauh lebih mudah dikontrol.
- Catatan baru dibuat akhir tahun. Mencatat tiap hari atau tiap minggu jauh lebih ringan daripada merapikan setumpuk nota sekaligus.
Mulai dari yang paling kecil
Tidak perlu langsung sempurna. Mulailah dengan rekening khusus usaha dan gaji bulanan untuk diri sendiri. Dua langkah itu saja sudah membuat untung usaha jauh lebih mudah dilihat.
Info umum. Kondisi tiap usaha bisa beda, tanya dulu sebelum ambil keputusan.
Mau pembukuan usaha Anda dirapikan?
Rapi Buku menyusun laporan laba rugi, arus kas, neraca, dan hitungan PPh Final UMKM tiap bulan. Online ke seluruh Indonesia, mulai Rp850 ribu per bulan. Konsultasi awal gratis.
Sumber:
Angka contoh disusun oleh Rapi Buku untuk ilustrasi.
Baca juga: Contoh laporan keuangan UMKM sederhana · Cara hitung PPh Final UMKM 0,5%