Banyak pemilik usaha kecil merasa laporan keuangan itu urusan perusahaan besar. Padahal tiga laporan sederhana sudah cukup untuk menjawab pertanyaan paling penting: usaha saya untung atau rugi, uangnya ke mana, dan sebenarnya usaha ini punya apa saja.
Di artikel ini kami pakai satu usaha contoh, sebut saja Kedai Contoh, untuk satu bulan. Semua angkanya contoh, bukan data klien.
1. Laporan laba rugi: untung atau rugi?
Laba rugi membandingkan penjualan dengan semua biaya di bulan itu. Yang dihitung adalah penjualan yang terjadi, bukan uang yang masuk ke rekening.
| Laba rugi Kedai Contoh, Oktober | Rupiah |
|---|---|
| Penjualan | 20.000.000 |
| Harga pokok penjualan (bahan baku terpakai) | (11.000.000) |
| Laba kotor | 9.000.000 |
| Gaji karyawan | (3.000.000) |
| Sewa tempat | (1.500.000) |
| Listrik, air, gas | (700.000) |
| Kemasan, promosi, lain-lain | (600.000) |
| Laba bersih | 3.200.000 |
Margin laba bersihnya 3,2 juta dibagi 20 juta, yaitu 16%. Dari tiap Rp100 penjualan, Rp16 jadi untung.
Satu hal yang sering terlewat: kalau pemilik ikut bekerja penuh di usaha tapi tidak menggaji dirinya sendiri, laba ini sebenarnya belum dikurangi "gaji pemilik". Kalau gaji wajar pemilik Rp3 juta, untung riil usaha tinggal Rp200 ribu.
2. Laporan arus kas: uangnya ke mana?
Arus kas mencatat uang yang benar-benar masuk dan keluar dari kas dan rekening. Angkanya bisa beda dari laba rugi, misalnya karena belanja bahan yang belum dibayar atau uang yang diambil untuk keperluan pribadi.
| Arus kas Kedai Contoh, Oktober | Rupiah |
|---|---|
| Saldo kas dan bank awal bulan | 7.000.000 |
| Uang masuk dari penjualan | 20.000.000 |
| Bayar belanja bahan baku | (10.700.000) |
| Bayar gaji, sewa, listrik, dan lain-lain | (5.800.000) |
| Diambil pemilik untuk keperluan pribadi | (2.000.000) |
| Saldo kas dan bank akhir bulan | 8.500.000 |
Laba bulan ini 3,2 juta, tapi saldo cuma naik 1,5 juta. Selisihnya ada di uang yang diambil pemilik (2 juta) dan belanja bahan yang sebagian masih utang. Inilah sebabnya laporan arus kas penting: tanpa itu, pemilik sering bingung kenapa "untung tapi uangnya nggak ada".
3. Neraca: usaha ini punya apa?
Neraca adalah potret di akhir bulan. Sisi kiri berisi apa yang dimiliki usaha (aset). Sisi kanan berisi dari mana aset itu dibiayai: utang dan modal pemilik. Kedua sisi harus sama besar.
| Neraca Kedai Contoh, 31 Oktober | Rupiah |
|---|---|
| Kas dan bank | 8.500.000 |
| Stok bahan baku | 2.000.000 |
| Peralatan | 6.000.000 |
| Total aset | 16.500.000 |
| Utang ke pemasok | 1.500.000 |
| Modal awal bulan | 13.800.000 |
| Laba bulan ini | 3.200.000 |
| Diambil pemilik (prive) | (2.000.000) |
| Total utang dan modal | 16.500.000 |
Kalau kedua total tidak sama, berarti ada transaksi yang terlewat atau salah catat. Itu sebabnya neraca juga berfungsi sebagai alat cek.
Cara membaca ketiganya bersama
- Laba rugi menjawab apakah model usahanya menghasilkan untung.
- Arus kas menjawab apakah uangnya cukup untuk jalan terus bulan depan.
- Neraca menjawab berapa kekayaan usaha dan berapa utangnya.
Bank dan investor biasanya minta ketiganya sekaligus kalau Anda mengajukan pinjaman atau kerja sama.
Mulai dari mana kalau belum pernah mencatat?
- Pisahkan rekening usaha dan rekening pribadi.
- Simpan semua nota jual dan beli, foto saja sudah cukup.
- Catat tiap transaksi: tanggal, keterangan, masuk atau keluar, dan jumlahnya.
- Di akhir bulan, kelompokkan transaksinya lalu susun tiga laporan di atas.
Kalau langkah ke-3 dan ke-4 yang paling berat, bagian itu bisa diserahkan ke jasa pembukuan.
Info umum. Kondisi tiap usaha bisa beda, tanya dulu sebelum ambil keputusan.
Mau pembukuan usaha Anda dirapikan?
Rapi Buku menyusun laporan laba rugi, arus kas, neraca, dan hitungan PPh Final UMKM tiap bulan. Online ke seluruh Indonesia, mulai Rp850 ribu per bulan. Konsultasi awal gratis.
Sumber:
Angka contoh disusun oleh Rapi Buku untuk ilustrasi.
Baca juga: Cara hitung PPh Final UMKM 0,5%